•  

Resensi

Diary Bocah Tengil #3: Usaha Terakhir



Aku bisa pastikan, semua orang yang membaca buku ini pasti akan merasa tersindir, senyum-senyum dan mesem-mesem sendiri, bahkan mungkin akan tertawa ngakak guling-guling sampai berlinang air mata.
Kenapa? Apa karena bukunya lucu?
Umm… sebaiknya mulai baca aja sendiri dan buktikan kelucuan yang disuguhkan.

Buku ini mengisahkan kehidupan sehari-hari seorang bocah anak SMP,Greg Heffley. Menceritakan kejadian yang menimpa dirinya, Dad, Mom, Rodrick abangnya dan Manny adiknya, dengan detail dalam bentuk sebuah Diari.

Kisah ini dimulai saat awal tahun baru. Semua keluarga Greg membuat daftar resolusi di tahun ini.
Mulai dari Greg yang mempunyai resolusi sangat sederhana. Ia akan berusaha membantu orang LAIN untuk memperbaiki diri mereka. Kok orang lain? Memang awalnya Greg berpikir bahwa resolusinya adalah berusaha berubah menjadi orang yang lebih baik.
Tapi masalahnya…bagi Gerg tidak mudah memikirkan cara untuk memperbaiki diri, karena ia merupakan salah satu dari orang-orang paling baik yang ia kenal. Gubraks.
Berlanjut dengan resolusi Mom. Mom bertekad akan pergi ke pusat kebugaran mulai saat itu juga. Alih-alih pergi ke pusat kebugaran menjalani resolusi yang ia buat, Mom menghabiskan waktu sepanjang siang dengan menonton televisi. Omigod.
Lain lagi dengan Dad, yang beresolusi untuk menjalankan program diet. Alih-alih diet, Dad menjejali mulutnya dengan brownies setelah makan malam. Ha… ha… ha…
Dan si bungsu Manny pun, tidak mampu mempertahankan resolusinya sebelum satu menit berlalu. Ia bilang pada semua orang kalau ia sudah besar dan tidak akan pernah menyedot empeng lagi. Dan ia pun melempar empeng kesayangannya ke tong sampah yang tak lama diikuti dengan mulai mengorek-ngorek tong sampah itu untuk mengambil empeng favoritnya kembali. ck ck ck …
Satu yang ajaib, Rodrick lah satu-satunya dalam keluarga Heffley yang tidak membuat resolusi.
Jadi akhirnya Greg berinisiatif untuk membantu Rodrick agar menjadi orang yang lebih baik (sesuai dengan resolusi Greg) dengan membuat rencana yang diberi nama “Tiga Kali Gagal Maka Kamu Keluar”. Intinya Greg Cuma membubuhkan tanda “X” kecil dalam daftar Rodrick setiap kali ia melihat Rodrick membuat kesalahan.

Kelakuan tengil lain dari Greg adalah ketika ia berada di dalam ruang hukuman. Ia sedang menjalani humunan detensi. Berada dalam ruangan bersama para pelaku kriminal lainnya.
Saat Mr. Ray sang moderator yang bertugas mengawasi murid yang dihukum, memergoki Leon, seorang pelaku kriminal yang selalu mengganggu Greg dengan cara memasukkan jarinya yang basah ke dalam telinga Greg. Dan hal itu uterus berulang tanpa sepengetahuan Mr. Ray. Maka ketika Mr. Ray menangkap basah kelakuan Leon ini, dia langsung mengancam Leon, bahwa Leon akan menghadapi masalah BESAR bila ia memergokinya lagi.
Greg yang tahu kalau Leon tetap akan terus menjahilinya walaupun sudah diancam oleh Mr. Ray, tidak kehabisan akal untuk menjahili balik Leon. Saat Mr. Ray membalikkan punggungnya, ia menepuk kedua belah tangan, seolah-olah Leon lah yang telah memukulnya. Bravo Greg…
Dan hasilnya, eng ing eng…
Mr. Ray pun menambah hukuman Leon dengan mengharuskan Leon tinggal setengah jam lagi plus hukuman detensi lagi BESOK. Karena Mr. Ray mengira Leon telah memukul Greg.

Yang tak kalah menggelikan adalah ketika hari Valentine. SMP tempat Greg bersekolah, yang mengharuskan murid-muridnya saling memberikan kartu.
Dan Greg pun sibuk membuat kartu, terutama membuat sebuah kartu valentine special untuk gadis yang ia sukai. Namanya Natasha.

Beginilah isi kartunya:

Natasha tersayang

Untukmu seorang, Biarkan api unggun
Lidah api terbakar cintaku menyelimutimu,
Dalam hatiku dalam kehangatannya,

Begitu kuat sehingga Hanya sebuah ciumanmu
Baranya mampu saja yang mampu
Membuat seribu bak menaklukkan api
Mandi mendidih yang membelengguku

Begitu dasyat untukmu aku
Sehingga membuat menyerahkan cinta,
Setiap manusia salju hasrat, dan hidupku
Di mana pun merasa
Putus asa


Sontak saja, saat Greg mempelihatkan kartu itu pada Mom dengan bermaksud meminta bantuan Mom untuk memerikasa apakah ejaannya sudah benar, Mom malah bilang kalau tulisanku tidak “pantas”.
Kejadian itu mengingatkan aku saat duduk di kelas dua SMP dulu, yang juga menerima sebuah kartu valentine dengan bertaburkan puisi cinta yang gombal mirip-mirip yang Greg buat untuk Natasha. Flash back nih …
Kalau diingat-ingat lagi, betapa senang dan polosnya aku saat itu. Ha ha ha…

Satu lagi kejadian lucu yang Greg ceritakan. Saat ia bercerita tentang benda kesayangan Manny, yang awalnya adalah sebuah selimut. Seiring waktu selimut itupun mulai rusak karena seringnya Manny membawa benda itu ke mana-mana dan tidak pernah diijinkan untuk Mom mencucinya. Ajaibnya benda itu itu juga lahyang bisa membuat Manny tenang saat Manny dalam keadaan panik atau rewel.
Benda yang Manny beri nama Tingy yang sekarang hanya berupa beberapa helai benang yang disatukan oleh upil dan kismis.
Akupun jadi berniat membuka aib sewaktu kecil dulu, sekitar awal masuk TK sampai kelas enam SD.
Kala itu aku mempunyai sebuah benda, yang harus aku bawa kemana-mana, bahkan ke sekolah pun harus aku bawa walau aku tidak pernah mengeluarkannya dari dalam tas. Malu …
Benda yang selalu aku pegang bagian talinya saat hendak tidur karena mem bawa perasaan damai dan tenang bila memegangnya. Dan seperti Manny, aku pun tidak mengijinkan ibuku untuk mencucinya atau mengganti dengan yang lain. Karena aku sudah jatuh cinta pada benda favoritku itu. Aku tidak mau kehilangan aromanya yang khas bekas dari isapan mulutku.
Aku akan marah-marah pada ibu saat aku tahu ibu mengganti benda favoritku itu dengan yang baru, walau serupa dan persis tapi aku tahu kalau ibu telah berbuat jahat padaku.
Tidak tega sebenarnya mengatakan apa benda itu, tapi aku selalu menyebutnya coklat mamah. benda yang tak lain adalah pakaian dalam atas ibuku. Sebuah Bra ibuku yang berwarna coklat muda dengan tali semi karet yang karetnnya sudah agak melar, sangking terus dipegang dan ditarik-tarik. Sssshhh…

Pokonya, siapapun yang baca buku ini pasti akan bergumam atau berkata dalam hati
“ih kok mirip gue yah!” atau
“hahaha… ternyata ada yang lebih tengil dari gue” atau bahkan
“ya ampun, ini sih bukan cerita tentang Greg, tapi cerita tentang gue!”

Nggak percaya??? Buktiin aja sendiri

Detail buku:
Judul : DIARY SI BOCAH TENGIL : USAHA TERAKHIR
Penulis: Jeff Kinney
Penerjemah : Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
ISBN : 978-979-1411-24-0
Tebal : 217 halaman
Cover: Soft Cover
Penerbit : Atria
Cetakan : II, Juni 2010


Kantor dan Redaksi



Jln. Rambutan VIII No.4

Komplek Mahkamah Agung R.I

Pejaten Barat, Pasar Minggu

akarta Selatan, Indonesia

Telp (021) 27534040 (hunting)

Fax (021) 27534400

Showroom dan Toko Buku



Jln. Pertanian III No 58

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

Phone. (021) 7824013

Follow Us On