•  

Resensi

The Girl Who Could Fly




Perkenalkan, Piper McCloud, seorang gadis pertanian yang bisa terbang. Bukan, bukan terbang menggunakan pesawat sebagaimana kita bisa terbang seperti biasanya. Piper benar-benar bisa terbang tanpa alat ataupun pesawat. Ia seringan udara, ia adalah bagian dari angkasa. Dia itu istimewa. 


Semuanya berawal ketika masih bayi. Ketika sang Ibu menidurkan si bayi Piper, tanpa sengaja si bayi terguling dan jatuh dari tempat tidur. Namun, alih-alih menghantam tanah dan menangis sejadi-jadinya, bayi piper Cuma mengapung di udara. Ketika menginjak usia 11 tahun, Piper semakin penasaran dengan bakat terbangnya ini, yang sayangnya, berusaha ditekan dan ditutup-tutupi oleh pasangan McCloud. Kedua orang tuanya tidak suka Piper terbang karena, yah, manusia memang tidak bisa terbang kan? Namun, panggilan angkasa nan biru terlampau sulit untuk ditolak Piper.


“Dan dia hampir saja mencium tanah ketika hal yang mirip mukjizat terjadi. Bagaikan sebuah pesawat dalam sebuah acara dirgantara, Piper bergesekan dengan permukaan tanah dalam sebuah gerakan melingkar yang menantang maut. Arah gerakannya berubah seratus delapan puluh derajat dan wajahnya berbalik dari permukaan tanah ke udara. Dia melesat ke atas dengan sebuah dorongan yang tidak terduga dan tingkat kecermatan yang menyamai pesawat F-22 Raptor.” (halaman 20). Piper McCloud benar-benar terbang!


Ia tetap nekat terbang diam-diam hingga akhirnya peringatan orang tuanya terbukti. Saat mengikuti pertandingan bisbol di kampungnya. Ketika hendak menangkap bola yang terlempar terlalu jauh, Piper tak kuasa melesatkan dirinya ke udara. Dia terbang menangkap bola itu dengan hati riang gembira, tak menyadari konsekuensi dari melakukan tindakan terbang tanpa alat di hadapan banyak orang. Piper pun mengundang perhatian dunia. Seluruh dunia ingin mengetahui tentang Piper, gadis yang bisa terbang.


Hidup Piper McCloud tidak pernah sama lagi sejak saat itu. Ia terpaksa diamankan di sebuah institut rahasia yang dibangun di sebuah gunung terpencil oleh Dokter Hellion. Institut rahasia itu bernama I.N.S.A.N.E, yang merupakan sebuah sekolah rahasia untuk anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa. Di sekolah inilah, Piper bertemu dengan anak-anak luar biasa seperti dia. Mereka adalah anak-anak berbakat khusus yang sering kali dianggap aneh oleh orang awam. Ada Lilly yang bisa menggerakkan benda-benda dengan pikiran, Violet yang bisa mengecilkan maupun membesarkan badan,  Bella sang seniman warna, Daisy yang merupakan orang terkuat yang pernah hidup, Smitty yang pandangannya menembus tembok, Kimber yang mampu mengeluarkan arus listrik, Myrtle yang mampu berlari mengelilingi dunia dalam waktu sangat singkat, dua bersaudara Ahmed dan Nalen yang mampu mengendalikan cuaca, serta Conrad, anak paling cerdas dan paling analitis di dunia.


Dari merekalah Piper merasakan dirinya diterima. Dan, karena kedatangan Piper jugalah maka anak-anak super itu mendapatkan sengatan antusiasme. Awalnya, Conrad begitu memusuhi Piper. Ia sepertinya iri dengan kemampuan Piper. Ternyata, Conrad bukan iri, tapi dia punya rencana. Dan, Piper adalah anak yang tepat untuk menjalankan rencana itu. Kelihaian berpikir dan perencanaan Conrad yang selalu hampir 100% tepat akhirnya menyadarkan Piper. Piper yang semula benci luar biasa kepada Conrad akhirnya harus berterima kasih ketika akhirnya Piper mengetahui fakta yang sebenarnya dari I.N.S.A.N.E. Secara diam-diam, ia melihat sendiri berbagai hal buruk yang dilakukan Dokter Hellion dan para stafnya. I.N.S.A.N.E benar-benar tempat paling berbahaya untuk anak-anak itu.


Lalu, apakah yang dilakukan Piper dan Conrad selanjutnya? Apakah mereka akan diam saja atau memberontak? Apakah Piper bisa kembali ke rumah pertaniannya? Lalu, ada satu lagi rahasia besar yang disimpan rapat-rapat oleh I.N.S.A.N.E, Anda bisa menemukan di akhir buku ini. Sampul novel ini, sepertinya terlalu spoiler karena pembaca bisa langsung menebak siapa dan bagaimana dokter Hellion. Namun, ada satu kejutan lagi dari dokter Hellion. Apakah itu? Perhatikan saja nama “Hellion”, apakah Anda teringat sesuatu saat mendengar nama itu?


Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca. Saya sangat suka dengan cara penulis menampilkan kepribadian Piper yang memang masih anak-anak. Walaupun memiliki kekuatan super, yah mereka juga masih anak-anak dan penulis mampu menghadirkan jiwa anak-anak yang polos dan ceria. Pelukisan karakter Conrad dan dokter Hellion juga sangat matang, tidak nanggung, bahkan saya dibuat hampir yakin kalau orang cerdas seperti Conrad itu benar-benar ada. Membaca The Girl who Could Fly, pembaca akan teringat langsung pada serial X-Men. Beberapa anak di I.N.S.A.N.E memang memiliki kemampuan yang sama dengan beberapa tokoh utama di film X-Men. Itu juga yang membuat novel ini menarik.


Satu hal yang mungkin agak mengganjal adalah kurangnya detail teknis yang menjelaskan mengapa seorang manusia bisa terbang. Penulis hanya menjelaskan ada sensasi menggelitik yang menyebar dalam tubuh Piper, yang kemudian membuatnya bisa terbang. Dari mana Piper mendapatkan dorongan untuk melesat dan terbang berputar-putar mengingat tidak ada mesin jet yang mendorong kakinya? Ada perbedaan besar antara mengapung di udara dan terbang. Awan dan balon mengapung di udara, keduanya hanya bergerak vertikal dan hanya akan berpindah tempat kalau terkena hembusan angin. Sementara Piper, hanya dijelaskan bahwa tubuhnya bisa menjadi ringan, namun kurang dijelaskan dari mana Piper mendapat tenaga atau dorongan untuk melesat ke udara mengingat dia tidak memiliki sayap ataupun mesin jet.


Namun demikian, novel ini mungkin ditulis bukan untuk tujuan teknis, tapi lebih sebagai bacaan ringan bagi para remaja. Ending¬ novel ini juga cukup memuaskan, walaupun agak kurang greget di bagian pertempuran kecilnya. Namun, kejutan-kejutan yang dihadirkan benar-benar mampu membuat pembaca terperangah dan menepuk jidat sambil berkata, “Ow…begitu ya, pantas!” Inti dari novel ini adalah jangan takut untuk menunjukkan bakatmu walaupun orang lain mungkin akan iri. Jangan lupakan antusiame untuk mewujudkan mimpi-mimpi kalian, karena Piper sendiri tak akan pernah bisa terbang jika dia tidak berani berbuat nyata—melompat dari atap rumahnya—untuk mengetahui bakat istimewanya. Piper telah berhasil terbang dan menggapai impiannya untuk menjelajahi langit. Kita juga mampu menggapai mimpi dan cita-cita kita jika kita memenuhi diri ini dengan keberanian untuk mencoba, pantang putus asa, dan antusiasme. Mari terbang ke awan bersama Piper. 

Kantor dan Redaksi



Jln. Rambutan VIII No.4

Komplek Mahkamah Agung R.I

Pejaten Barat, Pasar Minggu

akarta Selatan, Indonesia

Telp (021) 27534040 (hunting)

Fax (021) 27534400

Showroom dan Toko Buku



Jln. Pertanian III No 58

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

Phone. (021) 7824013

Follow Us On