•  

Resensi

A Tale Dark and Grimm




Satu lagi versi plesetan—atau jangan-jangan malah versi asli—dari dongeng-dongeng karya Grimm keluar di pasaran. Hati-hati, dongeng versi asli ini lebih kejam, lebih berdarah-darah, lebih banyak anggota tubuh yang terpotong, lebih menyedihkan, namun juga lebih keren. Sekali lagi, berhati-hatilah saat membaca novel ini. Suruh anak-anak di bawah usia remaja untuk tidur agar mereka tidak memimpikan Gretel yang dipotong jarinya atau Hansel yang dibelah kulitnya. Hiyyy …


Sudah lebih dari satu abad ketika Grimm Bersaudara menerbitkan kumpulan cerita-cerita daerah dan legenda rakyat Jerman yang kemudian digemari dan dimiliki oleh penduduk dunia. Kita semua sudah begitu akrab dengan dongeng-dongeng tersebut sehingga sangat sulit membayangkan ada orang dewasa yang belum mengenal kisah Cinderella, Hansel dan Gretel, ataupun Gadis Bertudung Merah. Nah, banyak yang belum mengetahui kalau dongeng-dongeng yang banyak beredar di pasaran itu adalah dongeng versi yang sudah sangat diperhalus. Dongeng-dongeng tersebut disampaikan turun-temurun dari satu orang ke orang lain, lalu diulangi lagi oleh orang yang lainnya, dan dari orang tua ke anak-anaknya sehingga versinya pun diperhalus agar si anak tidak bermimpi buruk. Namun demikian, yah, versi yang diperhalus ini telah kehilangan bagian-bagian kerennya sampai-sampai Adam Gitwitz berujar, “Dan kau bosan setengah mati sampai pingsan ke lantai.”


Cerita diawali dengan kisah tentang seorang Raja Muda dan pelayannya yang paling setia. Dikisahkan bahwa raja ingin menikahi Putri Emas padahal wanita paling jelita itu membawa kutukan mengerikan. Semua pria yang menikah dengannya akan mati. Hanya saja, pelayan setia sang raja mengetahui dari bisikan tiga burung gagak bahwa ia harus mengorbankan dirinya agar raja dapat menikahi putri emas itu. Cerita pun mulai bergulir dengan berbagai ramalan mengerikan seperti “Tapi, kalau menyentuhnya dia akan habis terlelap api dan terbakar langsung jadi abu langsung di tempat itu,” (hlm 13) atau “Tapi, jika dia melakukannya, dia akan terlempar dari punggung (kudanya) dan mati.” (hlm 12). Agar cerita terus bergulir, Raja dan Ratu pun akhirnya menikah, namun dengan satu syarat, sang pelayan paling setia itu berubah menjadi batu dan keduanya hanya bisa menangis tersedu-sedu. Dan, tahu tidak? Raja dan Ratu ini tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua dari Hansel dan Gretel.
Dan, Hansel dan Gretel pun dilahirkan sebagai anak-anak yang sehat, pintar, dan ceria. Suatu ketika, Raja tengah menangisi patung pelayannya yang paling setia. Dan, tahu tidak apa yang dikatakan oleh patung itu? Begini:


“Dan Johannes berkata: 'Kau harus memenggal kepala anak-anakmu dan melumuri patungku dengan darah mereka. Hanya dengan cara itulah aku bisa hidup kembali". (halaman 21)
 
Pengorbanan dibalas dengan pengorbanan. Dan Hansel dan Gretel pun dipenggal (maaf, not for children yah), darahnya dilumurkan, dan hiduplah Johhanes yang setia. Selesai? Belummm…cerita masih berlanjut.
“ Johannes memasangkan kembali kepala Hansel dan Gretel ke tubuh mereka. Serta merta, kedua bocah itu melompat dan bermain-main, seolah peristiwa mengerikan yang terjadi sebelumnya tidak pernah ada. (halaman 23).


Sudah selesai? Belum dong kan baru halaman 23! Cerita berlanjut ketika Hansel dan Gretel menyadari bahwa orang tua yang tega memenggal kepala anak-anaknya sendiri tidaklah pantas disebut orang tua yang baik (ya iyalah!, dipenggal gitu loohhh). Keduanya lalu melarikan diri, hanya untuk bertemu dengan seorang penyihir kanibal, bapak yang mengutuk anak-anaknya menjadi burung layang-layang, serta penyihir yang suka merenggut roh para gadis dan mengubahnya menjadi burung merpati. Berbagai cerita yang sering kita baca dalam versi-versi halus dongeng Grimm saling berjalinan membentuk struktur cerita berdarah-darah yang harus dilalui oleh Hansel dan Gretel. Masak Gretel harus memotong jarinya sendiri, dan Hansel membunuh anak rusa tidak berdosa yang manis. Aduh!


Di samping itu, mereka berdua toh harus kembali ke kerajaan mereka sendiri yang saat itu sedang diporak-porandakan oleh naga. Inilah ujung dari perjuangan mereka, menyelamatkan kerajaan dari naga. Dan, tahukah siapa naga itu sebenarnya? Ituloh, naga yang ganas itu ternyata adalah ZENZOR. Hehehe, di bagian akhir buku inilah novel ini tampak seperti novel-novel lain, penuh tindakan aksi, heroik dan perjuangan. Tentunya, diakhiri dengan akhir yang membahagiakan sebagaimana dongeng-dongeng lainnya.


Membaca bagian awal, Anda akan langsung merasakan keunikan dari buku nyentrik ini. Selain berdarah-darah, penulis seperti sengaja menggiring pembaca untuk geregetan. Baca saja halaman 19 – 25 kalau tidak percaya. Masak udah mau tamat, eh hampir tamat, eh nyaris tamat, akhirnya tamat. Penasaran kan? Cek sendirilah halaman itu, pokoknya bikin ngakak kelu deh. Secara keseluruhan, versi gelap dari dongeng-dongeng Grimm yang disusun oleh Gitwitz ini bercerita tentang dua bocah, Hansel dan Gretel, yang berkelana di dunia magis dan mengerikan. Sebagai mana judulnya, ceritanya memang sangat kelam, namun tetap menunjukkan makna dan arti dari perjuangan yang sesungguhnya, Bahwa Hansel dan Gretel harus rela mengorbankan dirinya, atau menempuh perjalanan jauh nan berbahaya, untuk mencapai kebahagiaan sejati.


Namun begitu, buku kecil ini sungguh layak untuk dibaca. Karena, sebagaimana kata penulisnya:


“Negeri ini sepadan untuk dijelajahi. Karena, dalam hidup, di tempat-tempat gelaplah (sering kali)ditemukan keindahan paling bersinar dan kebijakan paling bercahaya. Dan, tentu saja, darah terbanyak". 


Selesai. Tamat. The End. Fin. Fyuuhhh  

Kantor dan Redaksi



Jln. Rambutan VIII No.4

Komplek Mahkamah Agung R.I

Pejaten Barat, Pasar Minggu

akarta Selatan, Indonesia

Telp (021) 27534040 (hunting)

Fax (021) 27534400

Showroom dan Toko Buku



Jln. Pertanian III No 58

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

Phone. (021) 7824013

Follow Us On