•  

Resensi

Hold Me Closer, Necromancer




“Membangkitkan mayat pastinya lebih seru daripada membalik daging burger”


Sebuah kalimat gila yang menjadi tagline itulah yang menghiasi kover depan dari buku Hold Me Closer, Necromancer ini. Dari kalimatnya saja, aroma horor sudah menguar kuat dan dengan mudah kita cium. Tapi horor semacam apa yang akan ditawarkan oleh Lish McBride ini.


Bagaimana rasanya menjadi seorang necromancer, terlebih necromancer yang hidup di abad 21, bukan di abad 15 atau 18, abad di mana hal-hal kental berbau magis dan mistik itu masih bisa dikatakan lumrah. Necromancer, seseorang yang bukan hanya mempunyai kemampuan untuk membangkitkan mayat, tapi juga mendatangkan sekaligus berkomunikasi dengan arwah.


Hal inilah yang terjadi pada seorang cowok biasa, yang hanya bekerja di sebuah kedai makanan cepat saji, Plumpy’s. Samhain Corvus LaCroix. Usia 18 tahun, seorang koki goreng dan selalu membanggakan diri di mana pun ia biasa, bahkan bila harus menjadi pecundang jebolan kuliah, ia berencana menjadi jebolan kuliah terbaik.. Ia tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang necromancer. Yang Sam tahu, ia dibesarkan oleh ibunya, Tia LaCroix tanpa pernah merasakan kasih sayang ayah kandungnya. Ia hanya tahu bahwa ia mempunyai seorang adik perempuan, Haley yang sangat menyayanginya walaupun mereka berbeda ayah. Sampai suatu hari Sam tahu, bahwa dirinya adalah seorang necromancer. Hal ini bermula saat kedai makanan cepat saji di mana ia bekerja bersama ketiga temannya, didatangi oleh seorang pria asing. Pria itu bernama Douglas Montgomery dan ia adalah seorang necromancer yang keji dan sadis.

COVER ASLI 


Douglas tidak terima dirinya mempunyai saingan seorang necromancer. Terlebih fakta bahwa selama ini Sam tidak pernah mendatangi dirinya sebagai Dewan tertinggi dari makhluk-makhluk “unik”. Akhirnya Douglas memberikan pilihan pada Sam―untuk menjadi muridnya atau menjadi zombie bila Sam menolak tawaran tersebut.


Waktu yang Sam miliki hanya seminggu. Ia harus bisa mengalahkan Douglas dan terbebas dari kutukan menjadi muridnya serta tidak pula berakhir menjadi zombie. Tapi bila ia tidak bisa mengalahkan Douglas, maka semuanya berakhir menjadi neraka.


Namun Sam yang baru saja mengetahui bahwa dirinya necromancer, bingung harus berbuat apa. Di tengah kebingungannya, perlahan-lahan selimut misteri yang menutupi jati dirinya terungkapkan. Dan sejatinya ia harus berjuang untuk mendapatkan kekuatan seorang necromancer murni, tanpa ada sesuatu atau apa pun yang menghalanginya.


Teror awal yang Sam terima atas penolakan terhadap Douglas, harus ia bayar mahal. Mau tidak mau, suka atau pun tidak suka, Sam harus merelakan teman-teman kerjanya terlibat dalam dalam urusan pribadinya. Brooke, Ramon dan Frank harus berbesar hati dan juga hati-hati atas semua peristiwa sial yang menimpa mereka akibat kedekatan mereka dengan Sam.
Hingga sampai saat Sam masuk ke dalam perangkap Douglas dan dikerangkeng bersama seorang gadis―yang juga seekor hybrid serigala. Briddin.


Walaupun berada di dalam kerangkeng di kediaman Douglas, sempat-sempatnya adegan romantis antara Sam dan Brid terekam. Dasar cowok, walau kata dalam keadaan terjepit sekali pun, tetapi pikiran liarnya tetap saja mengembara dan memenuhi sebagian otaknya yang nyaris kosong.
Kisah seru terus berlangsung, Sam terus memutar otak agar bisa kabur dari cengkeraman kuasa Douglas.


Kelebihan kisah ini, selain memang seru dan berdarah-darah, juga konyol. Di saat merasa tegang, tiba-tiba kita akan diajak tertawa akibat kepolosan sorang Frank dan kejutekan seorang Brooke.
Komentar-komentar Brooke, kadang membuat geli. Terlebih lagi perkataan-perkataan Sam yang terkadang asal bunyi tapi berhasil memancing tawa.


Tapi dari semua cerita yang disajikan, saya lebih tertarik pada masa lalu Douglas Montgomery. Bagaimana si Douglas kecil menjalani hari-harinya. Douglas yang sangat menyayangi sepupunya, Douglas yang akhirnya diadopsi oleh sang bibi setelah sang ibu dan ayahnya merasa tidak bisa menangani anak mereka sendiri. Bagaimana sampai Doulas bisa menjadi necromancer yang sadis dan keji, hal itulah yang lebih membuat saya tertarik.


Hal unik lainnya dari buku ini adalah judul pada setiap bab yang tertulis. Semua bab menggunakan judul atau penggalan lirik dari sebuah lagu.
Dan saya pun tanpa sadar langsung bersenandung tatkala saya sampai pada bab dengan judul Easy Like Sunday Morning, yang merupakan pengglan dari lirik lagu yang dipopulerkan oleh The Commodores dengan Lionel Richie sebagai vokalisnya. Dan saya adalah penggemar lagu-lagu Lionel Richie ^ _ ^


Dan seperti biasa, Atria tidak pernah mengecewakan pembacanya dengan menerbitkan buku yang tidak bagus. Semua buku yang Atria terbitkan saya suka. Terlebih buku Hold Me Closer, Necromancer ini. Karena bukan hanya ceritanya yang unik dengan sensasi gado-gado, tapi juga karena kenyamanan dalam membaca buku ini berkat penerjemahan seorang Mizz Antie, penerjemah favorit saya. Membacanya menjadi terasa mudah dan mengalir indah.
Bintang empat layak untuk buku berkover keren dengan dominasi warna merah darah yang menampilkan gambar burung yang sedang bertengger di atas sebuah hati yang berdarah-darah.


Untuk yang ingin mengenal lebih dalam tentang Lish McBride, silahkan kunjungi web pribadinya di http://www.lishmcbride.com


Resensi oleh Noviane Asmara (http://buntelankata.blogspot.com)

Kantor dan Redaksi



Jln. Rambutan VIII No.4

Komplek Mahkamah Agung R.I

Pejaten Barat, Pasar Minggu

akarta Selatan, Indonesia

Telp (021) 27534040 (hunting)

Fax (021) 27534400

Showroom dan Toko Buku



Jln. Pertanian III No 58

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

Phone. (021) 7824013

Follow Us On