•  

Resensi

Hold Me Closer, Necromancer




Sam atau Sammy atau Samhain Corvus LaCroix hanyalah seorang jebolan kuliah yang bekerja di restoran cepat saji. Pemuda vegetarian ini tidak tahu apapun tentang manusia serigala, penyihir, vampir, ataupun fey (peri ala Amerika); ia juga tidak tahu apa-apa soal membangkitkan mayat. Bersama teman-temannya yang urakan, Brooke, Ramon dan Frank; keempat anak muda slengeean ini menjalani masa muda mereka yang sangat “Amerika”. Semuanya itu berubah ketika seorang necromancer atau pembangkit mayat keji bernama Douglas mendapati aura necroamcer Sam yang menyeruak ke sana-kemari dan tidak  terdaftar secara resmi. Sam secara non-resmi telah menyaingi Douglas sebagai satu-satunya necromancer utama di Seattle.


Belum mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, Sammy and friends cuek bebek sebelum akhirnya Douglas menunjukkan keseriusannya dengan mengirimkan kepala Brooke. Aduh,…langsung shock dah di bagian awal sudah ada adegan penggal-memenggal. Lebih bikin shock lagi, Brooke (atau kepala Brooke) bisa berpikir dan berbicara layaknya manusia hidup. Inilah keahlian seorang necromancer, sang pembangkit mayat. Douglas memang hebat, tapi ia juga kejam dan terlalu ambisius. Dan Sam yang belum terbangkitkan adalah objek dari kesewenang-wenangannya.


Seiring dengan beranjaknya halaman-halaman berhiaskan tengkorak ke bagian tengah buku ini, mulai jelas apa, bagaimana, dan kok bisa bahwa Sam adalah juga seorang necromancer. Dari ibunya sendiri, Sam mengetahui fakta pahit bahwa ayah biologisnya tidak menerima Sam yang seorang necromancer, bahwa pamannya adalah seorang ****, bahwa ibunya juga merupakan seorang ***** hahahaha (takut spoiler) Semua yang berkenaan dengan dunia supranatural ini membuat Sam bingung, begitu bingung hingga ia dengan mudah masuk dalam perangkap Douglas.


Di kerangkeng bawah tanah kediaman Douglas, Sam harus memilih apakah akan menjadi murid Douglas atau mati. Di kerangkeng itulah, Sam bertemu dengan Bridin—separuh manusia serigala dan separuh fey. Rupanya, Douglas pernah membunuh dan menyiksa beragam makhluk supranatural demi mengisap dan menambah kekuatannya. Itu pula yang nampaknya akan ia lakukan kepada Sam dan Briddin. Namun, disatukan dalam kerangkeng yang sama, mulailah muncul getar-getar asmara di antara Sam dan Briddin. Bagian ini, entah kenapa agak terlalu vulgar sebagai bacaan remaja. Bagaimana tidak, penulis benar-benar menjelaskan sosok Sam sebagai tipikal cowok muda Amrika Serikat yang sangat Amerika, begitu bebas, liberal, dan … sering berkata kasar. Belum lagi Briddin yang dikerangkeng dalam keadaan telanjang (oh no) hingga membuat Sam salah tingkah dan kepalanya terbentur jeruji dengan sangat keras saat berusaha sekuat tenaga menahan matanya  dr pemandangan gratisan ;p (jiah beginian hohoho)


Ok deh, kita loncati bagian yang romantis, kembali ke nasib Sam dan Briddin yang terancam, terutama setelah Douglas mengetahui kekuatan Sam yang sebenarnya. Mulai pada bagian tengah hingga akhir, konflik mulai terbentuk. Kawanan Briddin yang mencari-carinya, ibu Sam dan juga Ramon yang khawatir dengan putranya, semuanya akan dipertemukan dalam sebuah anti-klimaks berdarah-darah di rumah Douglas. Bagian inilah yang paling seru karena pertempuran dan konflik mulai memanas. Saksikan bagaimana Douglas menjaga dan melindungi rumah kediamannya, saksikan juga bagaimana cipratan dan tetesan darah menjadi perantara dari  perang final antara Sam dan Douglas, masing-masing berjuang demi meraih posisi sebagai satu-satunya necromancer yang paling unggul di Seattle.


Hold Me Closer Necromancer benar-benar novel yang cukup berdarah-darah, agak kelam kalau saja penulis tidak piawai memasukkan banyolan dan kelakar Ramon ke dalamnya. Dunia anak muda yang penuh warna dan begitu dinamis inilah yang mungkin mampu menangkal darah-darah yang ditebarkan Douglas. Membacanya jadi imbang, sesekali kita bisa tersenyum ngakak ditengah-tengah alur yang berbau manusia serigala, vampire atau mayat itu sendiri. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana teknik pembangkitan arwah, dan mengapa seorang necromancer harus membuat lingkaran perlindungan, atau mengapa darah itu merupakan property wajib dalam dunia supranatural. Dalam novel ini, kita akan mendapat sedikit jawabannya. Bagian paling asyik, dan wajib ditunggu adalah bagian pamungkas yang begitu keren dan membuat pembaca tidak bisa melepaskan buku ini sebelum selesai. Oh ya, satu hal yang unik dari buku ini, judul-judul setiap babnya memakai kalimat bahasa Inggris. Mengapa? Saya juga bingung sebelum akhirnya melihat halaman 440 hohohoho.  


Saya suka sekali dengan kutipan ini:
“Tahukah kau apa yang hebat dari bayi? Mereka bagaikan bingkisan-bingkisan mungil berisi harapan. Seperti masa depan yang terbungkus selimut.” (halaman 196).


Terakhir, sebagaimana kata Sam, kita harus berbangga dengan setiap kelebihan yang diberikan kepada kita. Apa pun itu, selama itu bermanfaat untuk kebaikan orang lain.
“…bahwa kekuatan ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Aku perlu menerima siapa diriku. Apa adanya diriku. Namaku Samhain Corvus LaCroix. Aku seorang necromancer. ( halaman 437) 

Kantor dan Redaksi



Jln. Rambutan VIII No.4

Komplek Mahkamah Agung R.I

Pejaten Barat, Pasar Minggu

akarta Selatan, Indonesia

Telp (021) 27534040 (hunting)

Fax (021) 27534400

Showroom dan Toko Buku



Jln. Pertanian III No 58

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

Phone. (021) 7824013

Follow Us On